Harapan = Ilusi

Konsepsi Harapan dan Ilusi

Seorang ulama’ revolusioner yang melawan sekulerisme turki pada masa pemerintahan Mustofa kamal attarturk, Badiuzzaman Said Nursi pernah berkata, “ yang paling layak dicintai, adalah cinta itu sendiri. Dan yang paling layak dibenci, adalah benci itu sendiri ”.

Mungkin banyak dari kita mengira, atau bahkan menghina, mem-bully, mereka-mereka yang sedang dimabuk-cinta. Namun sadarkah ? setiap orang pasti pernah atau mungkin sedang bucin (mencintai sesuatu dg sangat berlebih) terhadap suatu hal; entah itu dalam hal perkuliahan bagi mahasiswa, atau bahkan dalam hal agama “fanatic agama”. Dan sulitnya lagi orang yang terjebak akan kata “bucin” tidak sedikit yang sulit untuk dinasihati atau berpikir dg jernih.

Lebih parahnya ketika mereka terkena itu, lalu ternyata tak sesuai dg kenyataan yg ada. Terjadilah kebencian yg teramat mendalam; melebihi rasa cinta yg dulu mereka perjuangkan, lalu beranggapan bahwa “kenyataan tak sesuai harapan/ekspektasi”

Terlepas dari benar atau salahnya suatu tindakan, hanya waktu yang menjelaskannya.

Namun disini kami ingin membahas, bagaimana mungkin kenyataan tak sesuai harapan ? bukankah Tuhan sendiri yg memerintahkan bahkan menjamin atas sebuah harapan ?

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ

 iya benar, mungkin Tuhan memberi sebuah jaminan atas segala harapan kita. Namun tau kah, bahwa Tuhan juga memberi petunjuk dg ayat setelahnya :

فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ

Dalam ayat tersebut terdapat sebuah sindiran, dg kata وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي yang berarti “hendaklah mereka beriman kepadaku”. Jika di-artikan secara kasar, kalian berdo’a, meminta, tapi kalian tak percaya padaku.

Ibnu At-thoillah Al-askandari dalam kitabnya Al-Hikam, menyindir perbuatan tersebut dg perkataan :

سوابق الهمم لا تحرك أسوار الأقدار

Yang berarti seberapa kerasnya usaha, takkan mampu menembus dinding takdir.

    Sering kali manusia berdo’a, berusaha, namun sering pula terjebak oleh ilusi. Yang demikian itu dikarenakan kurangnya perasaan yakin, dan tenang bahwa semua yang diberi Tuhan adalah yg terbaik. Terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurutNya.

Maka seyogya-nya kita berfikir, sudahkah yang kita lakukan ini menurut Tuhan sudah baik ? 

SEKIAN

Comments

Popular Posts